Subscribe:

Rabu, 24 Juli 2013

Hubungan Emas dan Dollar Australia

KOMPAS.com - Nilai tukar mata uang suatu negara ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern, baik itu kondisi ekonomi, situasi politik, dan sentimen lainnya. Seluruh faktor mengenai negara akan berpengaruh pada pergerakan mata uang negara tersebut baik itu berdampak banyak atau sedikit.
Namun dalam pasar forex terdapat mata uang yang harganya dinilai oleh hanya satu faktor yaitu ekspor. Mata uang ini dalam forex disebut dengan mata uang komoditas. Mata uang komoditas adalah mata uang yang berasal dari negara-negara yang merupakan eksportir bahan baku atau sumber daya alam yang dimilikinya.
Spesifikasi mata uang komoditas adalah ekonomi negara tersebut bedasarkan pada ekspor dari tipe barang mentah tertentu seperti minyak, gas, logam, dan produk pertanian. Secara umum pengertian ini berlaku tidak hanya bagi negara-negara berkembang pengekspor sumber daya alam/ bahan baku seperti Burundi, Tanzania atau Papua Nugini, namun juga berlaku bagi negara-negara industri maju pengekspor komoditi seperti Australia, Kanada dan Selandia Baru.
Dengan pengertian tersebut maka pada dasarnya terdapat banyak mata uang yang dapat dikatakan sebagai commodity currency.  Mata uang yang paling aktif diperdagangkan di pasar forex adalah Dollar Selandia Baru (NZD=Dollar Kiwi), Dollar Australia (AUD=Aussie) dan Dollar Kanada (CAD=Loonie). Sehingga relevansi istilah commodity currency dalam perdagangan forex lebih condong kepada ketiga mata uang tersebut.
Mata uang ketiga negara itu juga dikenal sebagai commodity dollars atau Comdolls, karena ketiga negara tersebut memiliki mata uang yang bernama Dolar. Bagi negara-negara penghasil bahan baku dalam jumlah besar, kenaikan dari harga komoditi memungkinkan nilai tukar mata uang negara tersebut juga ikut naik, dan begitu juga sebaliknya.
Dollar Australia dan pergerakan harga emas
Salah satu negara penghasil komoditi terbesar dan memiliki mata uang yang aktif diperdagangkan adalah Australia. Saat ini Australia merupakan negara terkemuka dalam pertambangan dan memiliki cadangan besar dunia untuk emas, brown coal, timbal, nikel, tembaga dan perak. Sementara komoditas dari Australia berupa batubara, LNG, bijih besi, tembaga, intan dan mineral lainnya menjadi bahan baku untuk pembangunan negara-negara lain di dunia.
Dengan kepemilikan sumber daya yang melimpah, banyak investor yang menanamkan modalnya di sektor sumber daya alam Australia, dan telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kemakmuran Australia. Sepanjang tiga tahun terakhir, sektor ini telah berkontribusi sekitar 18 persen dari PDB, 42 persen dari pendapatan ekspor dan lumbung pendapatan pajak perusahaan. Pendapatan dari sektor ini banyak direinvestasikan kembali pada proyek-proyek infrastruktur dan sumberdaya alam lainnya. Kunci utama untuk menarik investasi besar dan jangka panjang ke Australia adalah kemampuannya menyediakan rezim perpajakan yang stabil dan kompetitif.
Emas adalah salah satu komoditi yang menjadi andalan Australia dan memiliki porsi lebih dari 50 persen dari nilai ekspor total negara tersebut. Komoditi emas memberikan kontribusi besar bagi produk domestik bruto (PDB) Australia, sehingga kenaikan dan penurunan harga emas, dapat mempengaruhi arah dollar Australia. Hal ini menyebabkan fluktuasi nilai emas memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perekonomian Australia dan pergerakan mata uang dollar Australia. Bahkan pergerakan emas dapat dijadikan dasar atau langkah bagi pelaku pasar untuk memprediksi pergerakan pairs AUD/USD.
Dalam dunia keuangan, emas dipandang sebagai safe haven melawan inflasi dan juga merupakan komoditi yang paling sering diperdagangkan. Namun pasokan emas di pasar dunia tidak sejalan dengan jumlah permintaan yang terus mengalami peningkatan. Sejumlah merger dan penutupan tambang menggambarkan bagaimana pasokan emas berkurang.
Produksi tambang emas baru meningkat sekitar 3 persen pada tahun 2010, hingga menjadi sekitar 2.652 ton. Hal tersebut disebabkan karena beberapa tambang skala besar baru mulai beroperasi. Meskipun adanya peningkatan tersebut, bagaimanapun, produksi tambang emas telah menurun sejak awal tahun 2000, sehingga meski terjadi peningkatan pada produksi emas, namun tetap tidak mampu memenuhi permintaan konsumen akan emas.
Jumlah permintaan yang terus meningkat terutama dari China dan India membuat investor beralih pada produk emas sebagai peluang investasi dan mendorong harga emas kian menjulang tinggi. Selain meningkatnya permintaan, faktor lain yang menyebabkan harga emas melejit adalah lahan penambangan emas sudah tidak ada. Semua emas sudah digali dan para penambang sekarang harus menggali lebih dalam untuk mengakses cadangan emas berkualitas.
Fakta bahwa emas lebih menantang untuk diakses menimbulkan masalah tambahan, yang antara lain adalah para penambang akan terkena bahaya tambahan dan dampak lingkungan yang akan meningkat. Singkatnya, akan ada biaya lebih mahal untuk mendapatkan emas yang lebih sedikit. Hal ini akan menambah biaya produksi tambang emas hingga mengakibatkan kenaikan yang tajam pada harga emas.
Australia yang merupakan produsen emas terbesar ketiga, jelas sangat terpengaruh oleh nasib harga emas, begitu pula dengan mata uangnya. Apabila terjadi kenaikan pada harga emas maka diprediksi hampir selalu memberikan apresiasi bagi dollar Australia. Begitu pula sebaliknya bila terjadi penurunan pada harga emas maka akan memberikan pelemahan bagi dollar Australia dan sebagian besar mata uang negara lainnya, yang menjadikan emas sebagai commodity currency, seperti Selandia Baru. Kedekatan jarak Selandia Baru membuat Australia dipilih menjadi tujuan ekspor barang-barang Selandia Baru. Oleh karena itu, kesehatan ekonomi Selandia Baru berhubungan erat dengan kesehatan ekonomi Australia.
Dengan melihat pola pergerakan antara harga komoditi emas dan Aussie maka pada masa normal pergerakan naiknya harga emas seiring dengan menguatnya Aussie terhadap dollar AS. Sementara pada periode krisis keuangan global sekitar tahun 2008-2009, hubungan tersebut agak sedikit terganggu. Selama masa ketidakpastian atau resesi ekonomi, banyak investor beralih ke investasi emas karena daya tahan nilainya. Emas sering dianggap aman bagi investor pada saat kondisi ekonomi tidak menentu. Ketika pengembalian aktual yang diharapkan dari ekuitas, obligasi, dan real estate jatuh, minat dalam investasi emas meningkat, sehingga akan menaikkan harganya.
Emas dapat digunakan sebagai lindung nilai terhadap mata uang, devaluasi inflasi atau deflasi. Selain itu, emas dipandang sebagai perlindungan dari ketidakstabilan politik, sebagaimana dibuktikan oleh kerusuhan baru-baru ini di Timur Tengah dan Afrika Utara, yang mungkin ikut memberikan pengaruh atas rally emas baru-baru ini ke level tertinggi baru.
Fluktuasi dollar Australia dan dollar AS
Saat ini Aussie merupakan mata uang yang banyak diperdagangkan di pasar valuta asing selain USD, euro, yen, dan pound sterling. Seiring dengan melonjaknya harga emas, Aussie pun ikut mengalami apresiasi tajam. Pada tanggal 15 Oktober 2010, dollar Australia mencapai paritas dengan dollar AS untuk pertama kalinya sejak menjadi mata uang yang bebas diperdagangkan. Mata uang dollar Australia kemudian diperdagangkan di atas paritas untuk periode selanjutnya yang dimulai pada bulan November 2010, dan terus mengalami fluktuasi hingga sekarang.
Pada tanggal 27 Juli 2011 Dolar Australia mencapai rekor tertinggi terhadap dollar Amerika yang diperdagangkan pada 1,1080 dollar terhadap dollar AS. Beberapa analis pasar uang bahkan menyatakan bahwa Aussie bisa naik hingga 1,70 dollar AS pada tahun 2014. Melambungnya harga komoditas merupakan pendorong terbesar bagi apresiasi dollar Australia.
Fluktuasi nilai dollar Australia pada tahun 2011 sangat terkait dengan permasalahan krisis utang negara Eropa, dan hubungan yang kuat antara Australia dengan importir di Asia khususnya Cina. Hal ini berarti perubahan nilai tukar dollar Australia terjadi dengan cara yang berlawanan dengan mata uang lainnya, dimana banyak mata uang yang terdepresiasi sebagai dampak terjadinya krisis keuangan di Eropa dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Kondisi tersebut membuka peluang yang lebih lebar lagi bagi apresaisi dollar Australia. Inilah saatnya bagi para investor untuk mengambil atau menambah porsi Aussie pada portofolionya untuk menghindari atau mengurangi kerugian yang disebabkan oleh uncertainty kondisi global. (Klara Pramesti, Treasury Research Analyst BNI)

0 komentar:

Posting Komentar