Subscribe:

Rabu, 18 April 2012

Doktrin Kabbalah Yahudi dalam Ilmu Psikologi



Mengapa kita harus terkejut ketika diberi fakta bahwa inti pelajaran-pelajaran di sekolah kita 95% adalah ajaran setanisme? Toh kita telah membuang Tuhan Yang Maha Esa dari sekolah-sekolah umum kita sudah sejak awal tahun 1960-an. Jadi, sekarang sekolah milik kita telah dibersihkan dari Tuhan selama tiga dekade, sekarang saatnya untuk memperkenalkan agama Anti-Kristus, murni Setanisme. Namun, pengenalan ini, setidaknya pada tahap awal, harus disamarkan, sehingga sebagian besar guru dan pengelola sekolah akan tertipu untuk sifat sejati ajaran ini. Jadi, Setanisme ajaran ini telah diperkenalkan ke sekolah-sekolah kita dengan kedok psikologi. (David Bay, Praktisi Pendidikan di Amerika).Psyche Sebuah Warisan Kaballah: Membongkar Teologi Yahudi dalam Pencetusan Ilmu Psikologi

Anda tahu bagaimanakah sebenarnya istilah Psikologi muncul? Tolong jangan ambil buku psikologi anda dulu. Karena disitu anda tidak akan pernah menemukan jawaban yang sebenarnya saya inginkan. Atau karena jabatan anda mahasiswa, psikolog dan konselor mungkin dengan itu bisa sekedar meredakan ketidakoptimisan saya? Ya sekalipun anda mahasiswa strata satu, bergelar master, atau mungkin saudara anda bertitel Profesor Psikologi sekalipun. Ini bukan saya mengecilkan arti pribadi anda, atau saya pesimis tentang wawasan keilmuan anda. Saya yakin anda orang hebat, tapi saya tidak yakin kurikulum keilmuan kita selama ini menampilkan fakta apa adanya tanpa aurat. Karena sekarang kita sedang berbicara tentang bagaimana sebuah rahasia disusun rapih. Tentang sebuah makna konspirasi yang tidak bisa dibaca dengan mata telanjang. Tentang bagaimana sebuah perkumpulan bawah tanah yang sedang bergerak membangun dunia. Dan tentang bangunan sistem nilai yang tengah dirancang untuk membuat tatanan dunia baru dengan menyingkirkan sistem yang kita yakini.Suatu ketika Almarhum Sukanto MM, salah seorang akademisi yang begitu konsen terhadap Psikologi, sekaligus pencetus Nafsiologi, merasa keheranan yang luar biasa. Ia begitu bingung kenapa nama Psikologi harus dicomot dari istilah Psyche, gubahan Plato, filosof Yunani Kuno klasik dari 25 abad yang lalu itu. Padahal Plato hanya memberikan sinyal Psyche dari hasil lamunan semata, bersifat insitingtif dan pastinya spekulatif. Jika ditelusuri lebih jauh Plato dalam hipotesanya membagi manusia menjadi tiga bagian, yakni, akal, afeksi, dan nafsu. Akal menjuntai dikepala, afeksi terletak di dada, dan nafsu berada di perut.

Almarhum Sukanto menangkap jelas bahwa struktur Psyche Plato mengalami invaliditas kebenaran ilmiah. Alhasil Psikologi Plato telah kadung dicap gagal untuk menyerap aspirasi publik modern yang haus atas nafas keshahihan sebuah ilmu.

Selanjutnya, pengajar di Universitas Islam Batik Solo tersebut mengatakan gagasan Aristoteles dengan Entelechi-nya sedikit lebih baik, ketimbang mengacu kepada trilogy Plato itu. Sebab spekulasi yang sifatnya elementer seperti yang Plato cetuskan amat sukar dibuktikan. Ini bisa dipahami karena konsep Niskala Plato menjadi rumit untuk diendus dengan kemampuan Inderawi. Dan mosi ketidakpercayaan atas Psikologi menjadi tidak terelakkan.
Fakta menarik ditemukan bahwa sedari dulu Aristoteles sebagai murid Plato sendiri memang meyangkal adanya psyche yang diurai gurunya tersebut. Menurut Aristoteles, entelechi dengan badan membentuk kesatuan total sebagai susunan monodualis, bukan susunan dikotomi seperti dugaan Plato. Nah lho… Mungkin Pak Kanto, ingin berujar, “Terus buat apa kita gembar-gembor kan kata Psikologi? Konyol bukan?”
ilmu jiwa tercanggih sekalipun bahwa sisi gelap mengungkapkan ternyata Plato adalah seorang penganut Kaballah Sejati. Jika anda belum mengenal Studi tentang Yahudi, singkatnya Kaballah adalah “satanic ideology” yang dari zaman Mesir Kuno dan hingga saat ini telah mewarnai pemikiran keilmuan dunia demi kelanggengan Hegemoni ajaran Yahudi. Mengacu pada mos tersebut, tak berlebihan bahwa nama Kaballah adalah sisi terpenting dalam entitas Sistem Nilai Yahudi yang akan menguasai dunia kelak. Kesemuanya itu popular dalam sebutan New World Order: Sistem Dajjal, kata Ahmad Thompson.

Seperti kepercayaan Mesir purba, Kabbalah menolak keras bahwa hakikat material terjadi dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kabbalah juga memvonis penciptaan manusia ala Islam menjadi sebuah isu semata. Bagi Kaballah, manusia adalah reinkarnasi, persis seperti teori evolusi Darwin. Individu juga tidak boleh diatur dalam sekat-sekat agama, karena manusia haruslah bebas membuat apa saja yang mereka kehendaki. Bagaimana mungkin manusia menjadi ampuh untuk diatur sedangkan individu adalah pusat materi. Dari titik tolah inilah timbul gagasan humanisme yang dalam psikologi bernama psikologi humanistik.Jama’ah Psikologi yang sejatinya atheis ini mencapai ribuan. Sayangnya didalamnya ada dosen, anggota Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), anggota Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi (IMAMUPSI) sekalipun, sampai mahasiswa Ushuluddin, Bimbingan Konseling (BK) dan Psikologi semester tingkat akhir. Kata mereka, Psikologi Humanis lebih dekat dengan manusia. Ya betul, dekat dengan manusia, sekaligus jauh dari Tuhan. Mengutip apa kata Harun Yahya, Humanis yang sejatinya paham atheis ini telah berhasil menipu ilmuwan, apalagi mahasiswa. Pada edisi berikutnya insya Allah akan penulis bahas.

Untuk lebih jeli memperhatikan pergerakan mereka, David Livingstone harus sampai menulis sebuah artikel monumental berjudul, Plato The Kabbalist. Disitu ia menulis bahwa harus menjadi keprihatinan kita bahwa gurita Filsuf Kabbalis seperti Plato ini telah menjadi pilar banyak doktrin yang telah melanda abad kedua puluh. Dan konyolnya, satu-satunya alasan dia telah mencapai reputasi besar adalah bahwa dalam rimba sejarah Barat dan Timur, tradisi okultisme Plato telah dianggap sebagai “godfather” dari berbagai doktrin, dan sebagai wakil besar dari orang-orang yang berhubungan dengan tradisi kuno Kabbalah.

Pada sisi lain, ajaran Kaballah tanpa terendus mata kemudian berkembang biak dengan baik dalam alam konspirasi keilmuan yang dilakukan Freemasonry (perkumpulan rahasia Yahudi). Padahal tradisi tersebut bertentangan dengan semangat ilmu, sebab tradisi Kabballah berasal dari peradaban jahiliah Mesir Purba, Yunani Purba, dan Rom yang telah membangun pra konsepsi akan sebuah atheisme sains. Di mana mereka yang seperti Fir’aun ini tidak mengakui wujud dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Cara mereka untuk melanggengkan jalan ini adalah dengan membina Heliopolis dan Memphis di mana tempat ini adalah sumber ilmu pengetahuan dan sains. Nama-nama seperti Pythagoras, Plato dan Cicero adalah sederetan filsuf yang menyertai Freemason ketika itu.

Majalah Mimar Sinan menyatakan tanggungjawab Fir’aun adalah mencari cahaya yakni ilmu. Ketika itu anggota Freemason berusaha membina kuil Sulaiman untuk memuluskan misi-misinya. Kisah ini ternyata tertangkap basah dan diberi garis bawah dengan jelas oleh Al- Qur’an pada surah Az-Zukhruf, ayat 54-55

“Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut). “

Secara gamblang, historitas pergerakan mereka seperti yang diendus Al Qur’an berkembang dengan tujuan gerakan Freemasonry secara umum memiliki empat visi yakni, Menghapus semua agama. Menghapus sistem keluarga. Mengkucarkacirkan sistem politik dunia. Selalu bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan manusia.

Perdebatan Pscyhe dalam Teologi Kristen

Yang menarik adalah bahwa istilah ideology Kaballah dalam Psyche Plato sebelumnya sudah menjadi perdebatan sengit dalam teologi Kristen. Dalam sebuah catatan dari Wisma Gembala, dikisahkan bahwa Pada 300 tahun sebelum kelahiran Kristus, Alexander Agung (Iskandar Agung), merambah dan menjajah banyak negeri. Dari Yunani dia bergerak menaklukkan seluruh Asia Barat, lalu menaklukkan Afghanistan, bahkan sempat memasuki India, sebelum penjelajahannya berakhir.

Selama ratusan tahun, negeri Israel berada di bawah penjajahan Yunani (sebelum penjajahan Romawi), sehingga pada masa Yesus, bahasa Yunani menjadi bahasa sehari-hari di Israel. Masuk jugalah budaya dan ajaran Yunani ke dalam pemahaman para pengajar Israel di kala itu.

Selanjutnya di catatan itu dijelaskan bahwasanya Guru-guru bangsa Yunani adalah ahli-ahli filsafat yang dihormati kendati mereka tidak mengenal dan tidak mengakui Tuhannya orang Yahudi. Mereka hanya mengakui dewa-dewi. Yang Maha Tinggi, dan mereka beri sebutan ‘Theos’.

Pada esensinya, Filosof Yunani menganut paham bahwa manusia terdiri atas dua bagian saja atau biasa disebut teori Manusia-2-unsur. Pertama, unsur yang kasat mata (baca: tubuh) dan unsur yang tidak-kasat-mata yang dalam filosofi Yunani kemudian disebut ‘psyche’ dan dalam bahsa Indonesia dikenal dengan aksioma jiwa. Paham filsafat Yunani ini mengajarkan lebih jauh bahwa ‘psyche’ adalah sesuatu yang abadi dan pasti tidak dapat binasa. Hal ini tertuang dalam buku “Memperkenalkan Theologia Perjanjian Baru” hlm.72 karangan A.M.Hunter yang menjelaskan bahwa:

“Berikutnya, Kebangkitan itu menunjukkan kekalahan maut. Ini memerlukan pendefinisian yang hati-hati. Mari kita menjelaskannya dengan mengatakan, bahwa orang Kristen pertama tidak mengatakan bahwa Kebangkitan itu suatu pembuktian dramatis kebenaran bahwa manusia tinggal hidup sesudah kematian: seolah-olah suatu bukti lagi yang ditambahkan kepada serentetan bukti-bukti tentang keabadian jiwa (suatu doktrin yang bukan Yahudi, melainkan Yunani).”

Dari sini kita menjadi paham bahwa dari pemikiran filsafat Socrates dan Plato (dua orang filosof Yunani) berkembanglah apa yang kita kenal selama ini, yakni Ilmu Psikologi! Wisma gembala menjelaskan bahwa sejatinya psikologi bukanlah sebuah ilmu yang kita bayangkan sebelumnya. Selama ini kita mencicipi definisi psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku dengan metode ilmiah. Namun sejatinya psikologi tak bisa berkelit ketika tertangkap tangan tengah mencoba melenyapkan Tuhan di dalam seluruh pengajarannya dan menjalankan nilai-nilai kebadian khas Kabbalis! Baik teori intelegensi, teori kepribadian, teori sosial, atau praktik konseling.

Itu memang menjadi keniscayaan hingga kini. Bayangkan Calvin Hall dan Gardner Lindzey saja dalam tiga jilid bukunya tak satupun merumuskan tiga aliran Psikologi yang menyertakan Tuhan dalam tampilan yang sebetulnya. Setali tiga uang, John Nevid dalam Psikologi Abnormal-nya pun demikian. Ivan Pavlov lebih gila lagi mencoba menyebut manusia sebagai binatang. Sigmund Freud? jangan ditanya, orang shalat saja dibilang sakit. Ini semua bermula dari gagasan materialisme dan humanisme yang dipelajari dan dipraktekan para psikolog terhadap pasien-nya dan konselor kepada anak didiknya.

Selanjutnya, dari fakta penjajahan Yunani ini serta fakta bahwa Perjanjian Baru awalnya di tuliskan di dalam bahasa Yunani, terjadilah perembesan paham. Menurut teologi Kristen inilah rupanya yang mengakibatkan masuknya istilah ‘psyche’ (Indonesia: ‘jiwa’) ke dalam Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, istilah ‘jiwa’ ditemukan dalam 34-ayat, tetapi yang paling tersohor adalah yang dianggap menopang Teori Manusia yang terdiri dari 3 unsur. Pertama dalam Matius .10:28

“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”

Dan kedua dalam Ibrani.4:12,

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”

Selanjutnya dapat diuraikan bahwa dalam waktu yang bersamaan, di Israel masih terpelihara pengajaran dari filsafat agama Yahudi, yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua bagian juga: bagian yang kasat mata (Indonesia: tubuh) dan yang tidak-kasat-mata (Ibrani: ‘ruach’; Indonesia: ‘roh’ atau ‘nafas-kehidupan’). Ini adalah Teori Manusia 2 unsur yang berasal dari Filosof Yunani, yang tidak mengakui hadirnya roh-roh. Dengan tidak mengakui adanya roh, ajaran ini juga tidak mengakui adanya Tuhan. Sebab Roh adaah bagian dari Tuhan.

Apa yang menjadi kekhawatiran para penganut Kristiani dalam melihat Psikologi sebenarnya tidak lepas dari andil ideologi humanisme yang mengklaim bahwa manusia bertanggung jawab besar terhadap keberadaannya. Kaum Kabbalis menolak intervensi Tuhan dan turut serta menyanjung Iblis sebagai alam yang membawa pencerahan atau akrab disebut dengan istilah Lucifer.

Kaum Kabbbalis mempercayai bahwa kekuasaan yang berasal dari cahaya, api dan matahari merupakan simbolisasi dari iblis. Namun tentunya mereka tampil tidak dengan rupa yang menakutkan, karena Lucifer kemudian melahirkan Illuminati yang berjalan dengan baju indah tapi bernama ideologi sains tanpa Tuhan.

Kesemuanya hadir atas nama ilmiah, demi sebuah objektifitas. Dan kita semakin mengerti bahwa istilah ilmu itu objektif dan mestilah empiric, lahir dari gagasan ini, termasuk psikotes yang sarat positivistik. Seperti yang sudah penulis uraikan, bahwa kesemua itu pada dasarnya adalah tipuan semata dan taktik bagaimana Barat ingin membunuh Tuhan tanpa meninggalkan jejak.

Dialektika Psyche dalam perdebatan teologi Kristen menjadi semakin menarik untuk diungkap, karena pada dasarnya Psyche ini memiliki andil terbesar untuk menjerumuskan kaum Kristiani dalam rimba sains minus Tuhan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan oleh Gereja.



Jika kita teliti mendalam, kekhawatiran itu sebenarnya tidak saja mendera Gereja. Kita bisa menyimpulkan bahwa Istilah Psyche inilah yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Psikologi. Studi ilmu yang hakikatnya dalam Islam dinilai sebagai upaya mendekatkan kita kepada jalan takwa, diubah sedemkian rupa untuk menjatuhkan umat muslim pada lubang yang ditutupi daun bernama misi menghapus agama. Korbannya adalah kita-kita semua, murid kita, anak kita, dan lebih bahaya lagi masa depan serta akidah kita.

Jalan terang dari Islam untuk melawan Hegemoni Yahudi

David Livingstone melihat doktrin Kabbala kepada hal yang lebih mendalam lagi. Bahwa filsafat yang kadung kita sebut sebagai pucuk ilmu, ternyata semata-mata merupakan perampasan ide-ide dari orang Majus Babel, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh ide-ide Kabbalistik Yahudi awal.

Tanpa dinyana thesa Livingstone telah merasuk ke puluhan ribu fakultas dan jurusan Psikologi yang ada di dunia, termasuk seratusannya bercokol di Negara penduduk Muslim ini. Adnin Armas MA dalam sebuah kesempatan pada kajian keislaman di INSIST mengungkapkan sebuah fakta. Ia mengungkapkan sebuah perjalanan ilmu yang coba disangkutkan kepada Sistem Peradaban Yunani. Isitah-isitlah ilmu yang mestinya menjadi domain yang khas Islam, tak bisa dielakkan selalu dibenturkan kepada peradaban Yunani. Kita ketahui bersama bahwa isitlah segala ilmu dan peradaban kerap diacarikan akarnya dari peradaban Yunani, seperti contoh Demokrasi, dari kata Yunani Demos Kratos. Antropologi, anthropos dan logos. Padahal secara jujur filosofi Yunani tidak menyumbangkan makna “Tuhan” bagi umat Islam. Cenderung merusak dan jauh dari harapan.

Ditambahkan oleh Armas, mengutip atas apa yang diteliti oleh Adi Setia dalam Thesisnya di ISTAC, Malaysia, bahwa peradaban Yunani ternyata tidak berdiri tunggal. Corak filsafat Yunani memiliki rumpun yang muaranya bisa “diprovokasi” pada pengaruh kuat peradaban Mesir Kuno. Sebuah peradaban yang sebelumnya telah eksis.

Balik kepada perdebatan awal, istilah Psyche yang diungkapkan oleh Plato, memang tidak hanya mengalami kecacatan ilmiah dalam literature saintifika, tapi juga menjadi semakin terang kekeliruannya ketika Islam ikut bermain untuk menjawab dalam carut marut ini. Dalam warisan epistemologi Islam, gagasan Psyche tidaklah menegasikan tentang arti Tuhan.

Pak Sukanto Mulyomartono dalam bukunya Nafsiologi Suatu Pendekatan Alternatif atas Psikologi, lebih khusus menampik aksara psyche dan menyebut psikologi dengan istilah baru, yakni “Nafsiologi.” Penggunaan istilah ini disebabkan objek kajian psikologi dalam Islam adalah al-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia. Term al-nafs tidak dapat disamakan dengan term soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat dan Plato, sebab al-nafs merupakan gabungan antara substansi jasmani dan substansi ruhani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia.

Sukanto melanjutkan bahwa jika Psyche adalah simbiosa hasil pikiran manusia, maka nafsiologi membahas nafs yang pengertiannya diambil dari Al Qur’an. Abdul Mujib, Profesor Psikologi Islam dari UIN Jakarta, melihat bahwa nafs dalam konteks ini berarti psikofisik manusia, yang mana komponen jasad dan ruh telah bersinergi, tidak terpisah seperti apa kata Plato. Apabila ia berorientasi pada jasad, maka perilakunya akan buruk, tetapi apabila mengacu pada natur ruh kehidupannya akan menjadi baik. Pada momen ini manusia memiliki kebebasan berkehendak yang memungkinkan manusia secara sadar mengarahkan dirinya ke arah keluhuran dan kesesatan.

Berbeda dengan Psikologi modern saat ini, Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-’aql, al-dhamir, al-lubb, al-fu’ad, al-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Qur’an, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam.

Sejatinya, Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Gagasan seperti ini tidak ada dalam literature Barat.

Mujib menambahkan bahwa nafs mempunyai potensi gharizah yang dalam arti etimologi berarti insting, naluri, tabiat, perangai, kejadian laten, ciptaan, dan dapat dipecah menuju tiga bagian, yakni (a) qalb yang berkaitan dengan rasa atau emosi. (b) Akal yang berkaitan dengan cipta dan kognisi, dan (c) nafsu yang berhubungan dengan karsa atau konasi.

Satu hal yang membantah konsep psikologi saat ini, bahwa dalam Islam jiwa selalu mengakui adanya kebenaran dari Allah. Konsep fitrah yang menjadi trademark Islam dengan jelas disebut oleh al-Ghazali ketika mengurai nafs. Al-Ghazali menyatakan bahwa kalbu memiliki jiwa ruhani yang disebut kalbu ruhani. Karakteristiknya menurut al-Ghazali menarik untuk disimak:

1. Ia memiliki insting yang disebut annur al ilahi (cahaya ketuhanan) dan al bashirah al bathiniah (mata batin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan.
2. Ia diciptakan oleh Allah sesuai dengan fitrah asalnya dan berkecendrungan menerima kebenaranNya.

Dengan konsep fitrah, Islam memandang bahwa semua manusia adalah baik dan manusia selalu ingin kembali kepada Kebenaran Sejati (Allah). Ini dipertegas dalam al-Qur’an, surat al A’raaf 7: 172.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,

Plato juga tidak bisa menampik bahwa Ruh adalah elemen yang penting dalam skala jiwa manusia. Dimana Ruh adalah nyata sesuai yang tertuang dalam Al Qur’an.

“Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”(Surat At Tahrim ayat 12)

Para ulama klasik juga menyusuri gagsan tentang Ruh dalam struktur kehidupan manusia. Ibnu Taimiyyah, misalnya menyatakan bahwa kata al-ruh juga digunakan untuk pengertian jiwa (nafs). Ruh yang mengatur badan yang ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan ke dalamnya (badan) dan jiwalah yang meninggalkan badan melalui proses kematian. Ruh yang dicabut pada saat kematian dan saat tidur disebut ruh dan jiwa (nafs). Begitu pula yang diangkat ke langit disebut ruh dan nafs. Ia disebut nafs karena sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh karena sifat lembutnya. Kata ruh sendiri identik dengan kelembutan, sehingga angin juga disebut ruh.

Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggunakan istilah ruh dan nafs untuk pengertian yang sama. Nafs (jiwa) adalah substansi yang bersifat nurani ‘alawi khafif hayy mutaharrik atau jism yang mengandung nur, berada di tempat yang tinggi, lembut, hidup dan bersifat dinamis. Jism ini menembus substansi anggota tubuh dan mengalir bagaikan air atau minyak zaitun atau api di dalam kayu bakar. Selama anggota badan dalam keadaan baik untuk menerima pengaruh yang melimpah di atasnya dari jism yang lembut ini, maka ia akan tetap membuat jaringan dengan bagian-bagian tubuh. Kemudian pengaruh ini akan memberinya manfaat berupa rasa, gerak dan keinginan.

Di dalam ayat yang lain, Allah menyebut Al-Qur’an dengan ruh, dan salah satu makna ruh di sini adalah segala yang menjadikan hati hidup penuh dengan makna. Sebagaimana halnya tubuh, jika di dalamnya ada ruh maka dia akan hidup dan jika ruh keluar dari badan maka dia akan mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu/Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.،¨ (QS. Asy-Syuraa: 52)

Sayyid Quthb juga mendelegasikan pandangannya tentang penamaan Al-Qur’an dengan ruh berdasarkan firman Allah: “(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang memberi ruh dengan (membawa) perintahNya kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (QS. Ghafir: 15) Redaksi yang digunakan dalam ayat ini mengisyaratkan dua hal: pertama, bahwa wahyu (Al-Qur’an) adalah ruh dan kehidupan bagi manusia, tanpa ruh ini manusia tidak akan bisa hidup dengan baik dan benar.

Kedua, bahwa wahyu itu turun dari tempat yang tinggi kepada siapa yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Redaksi ini bertepatan dengan sifat Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Dengan begini gagasan Plato tentang Psyche dan Psikologi jelmaan Kaballah saat ini menjadi terbantahkan. Hegemoni kaballah dalam epistemology Psikologi mengalami dua problem vital yang harus menjadi pusat perhatian para ilmuwan Muslim. Pertama karena gagasan psyche Plato dan derivate psikologi saat ini menggiring opini kita untuk mengingkari keberadaan Tuhan, dan lebih-lebih tidak hanya itu psikologi saat ini mencoba membunuh Tuhan serta mempromosikan nilai-nilai Kaballah.

Kedua, warisan Kaballah mencoba melanggengkan determenisme materi asbolut yang tidak diciptakan dari ketiadaan, tapi sudah ada. Ini berbenturan dari konsep manusia dalam Islam bahwa manusia diciptakan dari ketiaadaan. Al Ghazali dalam Kitab Kimiatus Sa’adahnya sampai harus mengingatkan perkara seperti ini dalam Bab Marifatullah-nya dengan sebuah ayat,

Tidakkah manusia tahu bahwa sebelumnya ia bukan apa-apa (76: 1)Dengan melihat persekongkolan jilid awal dalam psikologi ini, tentunya hegemoni Yahudi belumlah usai, masih banyak derivate dari nilainya yang berkamuflase dalam psikologi dan konseling kedepannya. Semangat untuk melawannya haruslah menjadi ijtihad semua umat muslim, baik mahasiswa, dosen, akademisi, ulama, dan sebagainya.

0 komentar:

Posting Komentar