Subscribe:

Kamis, 22 November 2012

ASEAN dan Tantangan Ekonomi Global

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN Ke-21 yang berlangsung di Istana Perdamaian, Phnom Penh, Kamboja, 18-20 November 2012, memberi harapan ASEAN dalam memasuki fase baru untuk meningkatkan hubungan dengan komunitas global.

Penegasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sesi pleno KTT ASEAN ke-21 itu kemudian dimanfaatkan sebagai peningkatandaya tahan ASEAN dari krisis keuangan global memasuki ASEAN 2015. Persoalannya, meski ASEAN tengah mengantisipasi dampak krisis Eropa dan perlambatan ekonomi Amerika Serikat bagi kawasan dengan penguatan konektivitas ASEAN serta meningkatkan daya saing dan daya tahan, ada dua tantangan yang menghadang ASEAN.

Pertama, dalam menghadapi China, apakah ASEAN mampu mengakomodasi secara baik isu Laut China Selatan. Kedua, sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi dunia saat ini, Asia dan ASEAN belum begitu solid dalam menata struktur ekonomi yang ada.

Tantangan ASEAN

 Globalisasi yang lahir dari belahan Barat seolah menjadi sebuah imperium yang tidak satu negara pun mampu menghindari. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, beroperasinya institusi-institusi internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank, serta mekanisme pasar bebas dengan organisasi perdagangan dunianya, telah mendorong globalisasi secara masif dan ekstensif ke berbagai penjuru dunia.

Dalam konteks itu, hegemoni negara-negara adikuasa semakin terasa mengimpit negara berkembang dan menempatkannya pada posisi tidak menguntungkan, demikian halnya ASEAN. Joseph Stiglitz (2002) menyebutkan, globalisasi secara tipikal diartikan dengan penerimaan kapitalisme unggul gaya Amerika Serikat.

Di lain pihak,negara-negara berkembang harus menerima bagian globalisasi jika ingin tetap tumbuh secara ekonomi dan mampu memerangi kemiskinan secara efektif. Ancaman globalisasi jika tidak diartikan secara aktif oleh ASEAN bisa meruntuhkan sendi-sendi kemitraan dan solidaritas yang telah lama terbangun.

Pada perkembangannya, meski ASEAN telah membentuk mekanisme ASEAN Plus Three dengan China, Jepang dan Korea Selatan; East Asia Summit (EAS) dengan negaranegara mitra wicara,seperti AS, Uni Eropa,Australia, Jepang, China, Korea Selatan, dan Rusia.Juga dengan ASEAN Regional Forum (ARF) yang beranggotakan negara-negara besar, tidak mampu menangkal hegemoni dari negara besar itu. China, misalnya, dalam KTT ASEAN ke- 21 di Kamboja, tidak mau kompromi bahwa agenda tentang Laut China Selatan dijadikan sebuah deklarasi bersama ASEAN.

 China tetap pada prinsipnya menolak multilateralisasiklaim tumpang tindih kedaulatan di Laut China Selatan. Krisis ASEAN-China ini berpotensi mengganggu volume perdagangan dan investasi dunia dan kegagalan ASEAN ini berpotensi memecah ASEAN yang selama ini dikenal kohesif dalam berdiplomasi. Lebih-lebih ASEAN selalu mengadvokasi sentralitas ASEAN.

Penopang Pertumbuhan Dunia

Dengan integrasi dan interdependensi yang makin solid dengan kekuatan-kekuatan ekonomi besar di Asia, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, ASEAN 2015 berpeluang menjadi bagian penting dari emerging economies yang akan menjadi alternatif pertumbuhan ekonomi dunia pada saat ekonomi AS dan Uni Eropa masih terus dibayangi krisis.

Berdasarkan perkiraan International Monetary Fund (IMF), ekonomi global akan melemah pertumbuhannya hingga menjadi 3,3 persen pada 2012. Bandingkan dengan laju pertumbuhan yang mencapai 5,1 persen pada 2010 dan 3,8 persen pada 2011. Ekonomi Asia yang biasanya perkasa diperkirakan tumbuh lebih rendah pada 2012 atau 2013 menjadi 5,4 persen dan 5,9 persen atau turun 0,6 persen dan 0,7 persen dari proyeksi April 2012.

Emerging economy seperti China dan India yang bertahan pada krisis keuangan global pada 2008 diperkirakan pertumbuhan ekonominya turun. Laju pertumbuhan ekonomi China pada 2012 diperkirakan tinggal menjadi 7,8 persen dan India 4,9 persen.
 Bandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi China 2011 sebesar 9,2 persen dan India 6,8 persen (Sri Adiningsih, 2012). Dalam laporan IMF,saat ini negara-negara yang ekonomi dan industrinya tumbuh cepat (emerging markets), termasuk Indonesia, lebih tahan dibandingkan pada dekade sebelumnya. Bahkan dinyatakan ketahanan perekonomian negara-negara itu luar biasa karena mampu tumbuh tinggi dan lebih ekspansif daripada negara maju. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi di Asia, yang oleh IMF diperkirakan tetap menjanjikan, seharusnya disikapi hati-hati dan lebih jeli lagi.

Betapa tidak, dalam laporan Prospek Ekonomi Dunia di sela-sela pertemuan tahunan dengan Bank Dunia di Tokyo, Jepang, 9 November 2012,IMF memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen. Pada Juli 2012, IMF masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada level 3,5 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di Asia pada 2012 tetap menjanjikan, yaitu 6,7 persen dan 7,2 persen pada 2013. IMF juga memperingatkan bahwa perekonomian akan menjadi lebih buruk jika krisis zona euro tidak segera diselesaikan dan Washington gagal memperbaiki fiskalnya.

Pertumbuhan di negara berkembang yang biasanya melaju dengan cepat, seperti China, India, dan Brasil, juga akan melemah (Oliver Blanchard, 2012). Selain IMF, lembaga multilateral lain seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB), terlebih dulu memangkas perkiraan pertumbuhan global. Gejolak di pasar global dan pemangkasan anggaran di beberapa negara maju juga telah membuat risiko menjadi lebih tersebar di segala penjuru dunia, memperlambat perdagangan dan investasi.

Kegagalan dalam bertindak terhadap beberapa isu akan membuat prospek pertumbuhan akan menjadi lebih buruk lagi (Oliver Blanchard, 2012). Apalagi kendala yang dihadapi struktur ekonomi negara-negara ASEAN masih ada, yang umumnya tidak saling melengkapi, malahan saling bersaing. Misalnya pemasaran komoditi-komoditi tertentu, seperti minyak kelapa sawit antara Malaysia dan Indonesia, karet antaraThailand, Indonesia, dan Malaysia.

Persaingan juga terjadi antara Vietnam dan Indonesia dalam hal kopi robusta, dan antara Indonesia, Myanmar dan Laos dalam hal pemasaran kayu (log) dan kayu jati. Meski dalam sepuluh tahun terakhir negara-negara Asia Tenggara berada di bawah bayang-bayang China dan India, akan tetapi produk domestik bruto (PDB) gabungan 10 negara anggota ASEAN sudah melampaui PDB India, dan bisa menyalip PDB Jepang dalam 16 tahun ke depan. Kekuatan PDB ASEAN telah tumbuh dari sekitar USD600 miliar pada 2000 menjadi USD2,3 triliun tahun ini.

Salah satu faktor yang berpengaruh adalah aktivitas perdagangan dengan China. PDB ASEAN diperkirakan akan menyentuh USD4,7 triliun pada 2020 dan nyaris mencapai USD10 triliun pada 2030. Situasi ekonomi yang menguat di negara-negara besar kawasan ini, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Filipina, juga diramalkan akan menarik lebih banyak investasi, lapangan kerja, dan merek-merek global ke Asia Tenggara (Rajiv Biswas, 2012). Sampai kapan kiprah Asia dan ASEAN sebagai salah satu penopang ekonomi dunia, pastinya waktulah yang menentukan.

FAUSTINUS ANDREA
Staf Peneliti CSIS, Jakarta
(Koran SI/Koran SI/ade)

0 komentar:

Posting Komentar